Berita

Selat Hormuz yang Jauh Terasa Dekat

Selat Hormuz yang Jauh Terasa Dekat

Ketegangan di Selat Hormuz menunjukkan bagaimana konflik Timur Tengah dapat memengaruhi harga energi, jalur perdagangan global, dan stabilitas ekonomi Indonesia yang terhubung dengan kawasan Teluk.

Ketika Selat Hormuz bergejolak, dampaknya tidak berhenti di kawasan Timur Tengah. Getaran ekonomi dan geopolitik dari selat sempit di Jazirah Arab itu dapat menjalar hingga ribuan kilometer, termasuk ke Indonesia. Bagi banyak negara, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan salah satu urat nadi utama sistem energi dan perdagangan global.

Ketegangan terbaru muncul ketika Garda Revolusi Iran menutup sebagian Selat Hormuz dalam waktu terbatas. Penutupan itu terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, di tengah proses perundingan antara delegasi Iran dan Amerika Serikat. Kantor berita Iran, FARS, melaporkan bahwa penutupan berlangsung beberapa jam dan disebut sebagai bagian dari pengamanan keselamatan pelayaran selama latihan militer.

Latihan tersebut dilakukan oleh Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) dan diberi nama “Kendali Cerdas”. Dalam latihan itu, Iran mensimulasikan berbagai skenario pengendalian perairan strategis, termasuk pengawasan lalu lintas kapal dan kemungkinan penutupan jalur pelayaran jika situasi keamanan memburuk. Selat Hormuz memang menjadi titik yang paling sensitif dalam dinamika militer di kawasan Teluk Persia.

Kepala Staf Angkatan Laut IRGC, Laksamana Muda Alireza Tangsiri, bahkan menegaskan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menutup Selat Hormuz kapan saja. Menurutnya, pasukan Iran hanya menunggu perintah politik untuk melaksanakan langkah tersebut. Pernyataan ini bukan sekadar retorika militer, melainkan sinyal geopolitik yang ditujukan kepada kekuatan Barat yang beroperasi di kawasan itu.

Selat Hormuz memiliki arti strategis yang sangat besar bagi ekonomi dunia. Selat yang lebarnya hanya sekitar 39 kilometer di titik tersempit itu merupakan satu-satunya pintu keluar-masuk Teluk Persia. Dari kawasan inilah minyak dan gas alam dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab dikirim ke pasar global.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melintasi jalur ini setiap hari. Selain itu, sekitar 20 hingga 25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global juga melewati perairan yang sama. Artinya, setiap gangguan di Selat Hormuz hampir pasti akan memicu reaksi cepat di pasar energi internasional.

Selat Hormuz

Gangguan terbaru di selat tersebut terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Ketegangan militer yang meningkat membuat kawasan Teluk Persia kembali menjadi salah satu titik panas geopolitik dunia. Dalam situasi seperti ini, Selat Hormuz sering kali berubah dari jalur perdagangan menjadi instrumen tekanan politik.

Kenaikan risiko di jalur energi global hampir selalu berujung pada volatilitas harga minyak dan gas. Ketika pasar memperkirakan kemungkinan gangguan pasokan, harga energi akan bergerak naik bahkan sebelum gangguan benar-benar terjadi. Bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia, perubahan harga ini dapat berdampak langsung pada neraca perdagangan dan stabilitas ekonomi domestik.

Dampaknya tidak berhenti pada energi. Gangguan di Selat Hormuz juga dapat memengaruhi arus perdagangan barang. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa dinamika geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, berpotensi mengubah peta perdagangan global. Dalam situasi seperti itu, pemerintah perlu memantau secara cermat apakah jalur perdagangan benar-benar terganggu atau hanya mengalami tekanan sementara.

Hubungan perdagangan Indonesia dengan kawasan Teluk juga cukup signifikan. Sepanjang 2025, nilai impor nonmigas Indonesia dari Iran mencapai sekitar US$ 8,4 juta, sementara ekspor nonmigas Indonesia ke negara tersebut mencapai US$ 249,1 juta. Meski nilainya relatif kecil dibandingkan perdagangan dengan negara besar lain, hubungan dagang ini tetap menunjukkan keterhubungan ekonomi yang nyata.

Hubungan perdagangan dengan negara Teluk lainnya bahkan lebih besar. Dengan Oman, nilai impor nonmigas Indonesia mencapai US$ 718,8 juta, sementara ekspor Indonesia ke negara itu mencapai US$ 428,8 juta. Adapun dengan Uni Emirat Arab, impor Indonesia mencapai sekitar US$ 1,4 miliar, sedangkan ekspor nonmigas Indonesia mencapai US$ 4,0 miliar pada tahun yang sama.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa stabilitas jalur perdagangan di kawasan Teluk memiliki pengaruh langsung terhadap aktivitas ekspor-impor Indonesia. Jika Selat Hormuz terganggu dalam waktu lama, distribusi energi dan barang dari kawasan tersebut dapat mengalami hambatan, yang pada akhirnya berdampak pada biaya logistik dan harga komoditas.

Dengan kata lain, Selat Hormuz mungkin berada ribuan kilometer dari Indonesia, tetapi dampaknya terasa sangat dekat. Jalur sempit di Jazirah Arab itu menjadi pengingat bahwa dalam ekonomi global yang saling terhubung, sebuah peristiwa geopolitik di satu kawasan dapat memengaruhi stabilitas energi, perdagangan, dan ekonomi negara lain di belahan dunia yang jauh.

Artikel Lainnya

Lihat semua →