Calon Dokter Seharusnya Fokus Belajar, Bukan Tertekan Oleh Rundungan Seniornya

Perundungan dalam pendidikan dokter masih terjadi, menekan kesehatan mental calon dokter dan berpotensi menurunkan kualitas pendidikan serta pelayanan medis.
Menjadi dokter sering dianggap sebagai perjalanan akademik yang berat. Mahasiswa kedokteran harus melalui pendidikan panjang, praktik klinis yang menuntut, serta tanggung jawab besar terhadap keselamatan pasien. Namun di balik tuntutan profesional tersebut, sebagian calon dokter juga menghadapi tekanan lain yang tidak kalah berat: budaya perundungan dari senior.
Fenomena perundungan dalam pendidikan kedokteran bukan isu baru. Dalam berbagai laporan mahasiswa kedokteran, praktik ini muncul dalam bentuk intimidasi verbal, tekanan berlebihan dalam praktik klinis, hingga perlakuan merendahkan dari senior kepada junior.
Di Indonesia, isu ini beberapa kali menjadi perhatian publik setelah muncul pengakuan mahasiswa mengenai pengalaman perundungan selama masa pendidikan klinik atau koasistensi. Lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang belajar justru berubah menjadi ruang hierarki yang menekan.
Tekanan tersebut bukan hanya berdampak pada kenyamanan belajar. Banyak mahasiswa kedokteran melaporkan stres berat, kecemasan, bahkan gangguan kesehatan mental selama menjalani pendidikan klinik.
Secara global, penelitian mengenai pendidikan kedokteran menunjukkan bahwa perundungan terhadap mahasiswa kedokteran cukup luas terjadi. Studi yang dipublikasikan di jurnal kedokteran internasional menunjukkan sekitar 40 hingga 50 persen mahasiswa kedokteran pernah mengalami bentuk perundungan atau perlakuan tidak pantas selama pendidikan klinik.
Bentuk perundungan yang paling sering dilaporkan meliputi penghinaan verbal, tekanan psikologis, serta penugasan yang tidak proporsional sebagai bentuk “uji mental” dari senior kepada junior.
Padahal tekanan berlebihan dalam pendidikan kedokteran dapat berdampak langsung terhadap kualitas pembelajaran. Mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis tinggi cenderung mengalami penurunan konsentrasi, kelelahan mental, dan risiko burnout.
Burnout di kalangan tenaga kesehatan sendiri telah menjadi isu global. Organisasi kesehatan dunia World Health Organization bahkan mengakui burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja.
Dalam konteks pendidikan kedokteran, budaya hierarki yang terlalu kaku sering menjadi akar masalah. Sistem pendidikan klinik yang menempatkan senior sebagai otoritas penuh dapat membuka ruang bagi praktik perundungan jika tidak diawasi dengan baik.
Beberapa negara telah mulai mengubah pendekatan pendidikan kedokteran dengan menekankan lingkungan belajar yang lebih suportif. Pendekatan ini menempatkan mahasiswa sebagai pembelajar yang perlu dibimbing, bukan diuji melalui tekanan psikologis.
Di Indonesia, pemerintah juga mulai memberikan perhatian terhadap kualitas pendidikan tenaga kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pernah menegaskan bahwa pendidikan dokter harus menghasilkan tenaga medis yang kompeten sekaligus memiliki empati terhadap pasien.
Para pakar pendidikan kedokteran juga menilai bahwa lingkungan belajar yang sehat sangat penting untuk membentuk profesionalisme dokter. Budaya intimidasi justru berisiko menciptakan tenaga kesehatan yang terbiasa bekerja dalam tekanan tidak sehat.
Selain berdampak pada mahasiswa, praktik perundungan juga dapat memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan. Dokter yang mengalami tekanan psikologis berat selama masa pendidikan berisiko membawa beban tersebut ke dalam praktik klinis mereka di kemudian hari.
Karena itu, banyak institusi pendidikan kedokteran mulai meninjau kembali budaya pendidikan yang terlalu hierarkis. Sistem pelaporan perundungan, pendampingan psikologis, serta pembinaan profesionalisme mulai diperkuat di berbagai fakultas kedokteran.
Pada akhirnya, pendidikan dokter seharusnya berfokus pada pembentukan kompetensi medis dan empati terhadap pasien. Ketika mahasiswa kedokteran harus menghadapi tekanan dari budaya perundungan, energi yang seharusnya digunakan untuk belajar justru habis untuk bertahan. Lingkungan pendidikan yang sehat menjadi kunci agar calon dokter dapat berkembang menjadi tenaga medis yang profesional sekaligus manusiawi.
Artikel Lainnya
Lihat semua →
Bagi Silmy Karim, Warga Negara Asing Boleh Tinggal Asal Bayar
Dokumen KITAS yang seharusnya menjadi layanan administratif, menjadi komoditas.

Amerika Serikat Meminta AI untuk Mengatur Serangan ke Iran

Larangan Main Medsos untuk Anak Indonesia Baik Secara Tujuan, Tapi Rentan Secara Kebijakan
