Airlangga Hartarto
Politisi dan pengusaha Indonesia, kini menjabat Menko Perekonomian di Kabinet Merah Putih dan mantan Ketua Umum Partai Golkar.
Biografi
Airlangga Hartarto saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam Kabinet Merah Putih pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sebelumnya, ia menjabat posisi yang sama di Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Selain itu, Airlangga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar dari 2017 hingga 2024. Kiprahnya di dunia politik telah lama dimulai, dengan menjadi anggota DPR-RI dari Partai Golkar sejak 2004.
Airlangga lahir di Surabaya pada 1 Oktober 1962, dari pasangan Hartarto Sastrosoenarto dan Hartini Soekardi. Ayahnya adalah seorang tokoh penting pada masa pemerintahan Soeharto, pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian selama 15 tahun. Latar belakang keluarga ini memberikan pengaruh besar dalam perjalanan karier Airlangga. Ia menikah dengan Yanti K. Isfandiary dan memiliki delapan orang anak.
Airlangga menempuh pendidikan menengah di SMA Kolese Kanisius Jakarta. Ia kemudian meraih gelar Sarjana Teknik Mesin dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tahun 1987. Pendidikan формальнаяnya berlanjut dengan meraih gelar MBA dari Monash University Australia (1996) dan Master of Management Technology dari University of Melbourne, Australia (1997). Ia juga mendapatkan gelar доктор Honoris Causa dalam Kebijakan Pembangunan dari The Korea Development Institute (KDI) School of Public Policy and Management (2019) dan доктор Honoris Causa di bidang Manajemen Olahraga dari Universitas Negeri Semarang (2020).
Karier politik Airlangga dimulai sebagai Wakil Bendahara DPP Golkar periode 2004-2009. Ia kemudian terpilih menjadi Anggota DPR-RI dan menduduki berbagai posisi di komisi yang membidangi perindustrian, perdagangan, investasi, dan BUMN. Pada tahun 2016, ia ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian. Puncak kepemimpinannya di Golkar adalah ketika ia terpilih sebagai Ketua Umum pada tahun 2017.
Airlangga dikenal sebagai sosok yang mengagumi ajaran Mahatma Gandhi, terutama mengenai tujuh hal yang harus dihindari, seperti kekayaan tanpa kerja dan politik tanpa prinsip. Ideologi politiknya cenderung moderat dan fleksibel.