AA
Tokoh

A.A. Ahmad Nawardi

Diperbarui 3 minggu lalu

A.A. Ahmad Nawardi adalah anggota DPD RI dari Jawa Timur yang terpilih tiga periode berturut-turut, dikenal dekat dengan komunitas akar rumput dan kalangan pesantren.

Biografi

A.A. Ahmad Nawardi, lahir di Sampang, Madura, pada 6 Maret 1974, adalah seorang politikus yang saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mewakili Provinsi Jawa Timur. Ia terpilih menjadi senator untuk periode 2024-2029, meneruskan pengabdiannya setelah dua periode sebelumnya. Nawardi dikenal luas di kalangan masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sampang, serta familiar di kalangan pejabat dan tokoh masyarakat. Sebelum menjadi anggota DPD RI, ia pernah menjadi anggota DPRD Jawa Timur.

Nawardi berasal dari keluarga petani desa. Ia menghabiskan masa kecilnya dengan membantu orang tua bertani dan belajar di langgar milik kakeknya, KH Muhammad Soleh. Pendidikan formalnya dimulai di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Lumajang, sebelum melanjutkan ke UIN Sunan Ampel Surabaya (dulu IAIN). Selama kuliah, ia aktif mencari nafkah sebagai guru ngaji, kernet angkot, dan penulis opini di media massa.

Keterlibatannya dalam organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadi titik balik yang membentuk karakter politiknya. Ia juga aktif di Lembaga Pers Mahasiswa, mengasah kemampuan menulisnya sebagai sarana dakwah. Sebagai aktivis PMII, Nawardi terlibat dalam aksi mahasiswa tahun 1998 yang menuntut reformasi dan menggulingkan Orde Baru. Pengalaman ini menanamkan pemahaman mendalam tentang politik akar rumput dan pentingnya suara rakyat.

Nawardi dikenal memiliki gaya komunikasi yang santun dan dekat dengan masyarakat. Ia gemar berbaur dengan berbagai komunitas, terutama akar rumput, yang merupakan modal sosial penting dalam karir politiknya. Kedekatannya dengan kalangan kiai dan tokoh masyarakat juga menjadi faktor penentu dalam setiap pemilihan.

Sebagai seorang santri dan aktivis, Nawardi memiliki basis ideologis yang kuat pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan. Ia banyak dipengaruhi oleh pemikiran tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang menekankan pentingnya keseimbangan antara agama dan nasionalisme. Dalam spektrum politik Indonesia, ia menempatkan diri sebagai tokoh yang memperjuangkan aspirasi daerah dan kepentingan masyarakat kecil.