SorotanAktif

Tingginya Prevalensi Stunting

Isu induk: Gizi Masyarakat

Stunting di Indonesia sempat menyentuh angka 21,6% pada tahun 2022. Meski membaik, belum ada progress yang signifikan.

Diperbarui 1 minggu lalu

Definisi masalah

Prevalensi stunting di Indonesia masih menjadi masalah serius, dengan angka 21,6% berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022. Angka ini, meskipun menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya, menandakan bahwa lebih dari satu dari lima balita di Indonesia mengalami gagal tumbuh. Kondisi ini menempatkan Indonesia di atas target WHO sebesar 20% dan berimplikasi pada kerugian ekonomi hingga 2-3% dari PDB.

Stunting memiliki dampak jangka panjang yang krusial, terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dapat merusak perkembangan otak dan fisik anak secara permanen. Hal ini tidak hanya memengaruhi kemampuan belajar dan prestasi akademik, tetapi juga menciptakan siklus kemiskinan antargenerasi. Beban ekonomi yang ditimbulkan stunting juga signifikan, baik dari biaya pengobatan maupun hilangnya potensi produktivitas sumber daya manusia.

Faktor penyebab stunting sangat kompleks, meliputi keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, sanitasi dan air bersih yang belum merata, serta kurangnya pengetahuan gizi dan pola asuh yang tepat. Kesenjangan akses pelayanan kesehatan dasar dan kurangnya koordinasi lintas sektor juga menjadi kendala. Meskipun ada komitmen, implementasi kebijakan di tingkat lokal terkadang belum optimal dalam menyentuh akar masalah.

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (Stranas Stunting) yang melibatkan berbagai kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. Upaya penanganan mencakup intervensi spesifik seperti suplementasi gizi dan imunisasi, serta intervensi sensitif seperti penyediaan air bersih dan edukasi gizi. Program prioritas seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan penguatan Posyandu juga terus digalakkan.

Perkembangan isu stunting menunjukkan adanya kemajuan, dengan penurunan prevalensi menjadi 21,6% pada tahun 2022. Fokus pada intervensi selama 1000 HPK semakin kuat, dan pemerintah daerah didorong untuk mengalokasikan anggaran serta menyusun rencana aksi daerah (RAD). Berbagai inovasi dan kolaborasi dengan sektor swasta, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil juga terus dilakukan untuk mendukung upaya penurunan stunting.

Meskipun demikian, tantangan untuk mencapai target 14% pada tahun 2024 masih besar, terutama terkait disparitas antar wilayah dan masalah implementasi di lapangan yang memerlukan perbaikan berkelanjutan. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 akan menjadi indikator penting untuk mengevaluasi efektivitas program yang telah berjalan dan mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

Lembaga terkait

Tokoh terkait