Cek Kesehatan Gratis Jadi Program Paling Memancing Reaksi Positif
Visualisasi
- Positif
- Negatif
- Netral
Keterangan
Litbang Kompas merilis hasil pemantauan komprehensif mengenai sentimen perbincangan warganet Indonesia terkait sejumlah program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Riset ini menangkap dinamika opini publik digital selama satu tahun penuh masa jabatan sang presiden.
Pemantauan dilakukan dengan menggunakan kata kunci "Prabowo Subianto" terhitung sejak hari pertama pelantikan pada 20 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2025. Selama periode tersebut, tim peneliti berhasil mengumpulkan sebanyak 804.357 percakapan yang relevan dari lima platform media sosial utama, yakni TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, dan X.
Untuk menjaga validitas data, seluruh percakapan yang terkumpul telah disaring ketat guna mengeliminasi konten yang terindikasi bersumber dari buzzer, akun robot (bot), maupun unggahan lain yang tidak relevan.
Dari delapan program prioritas yang diusung oleh pemerintahan Prabowo, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) berhasil menduduki posisi puncak dengan perolehan sentimen positif tertinggi dari warganet, yakni mencapai 80%.
Berikut adalah rincian capaian sentimen positif untuk beberapa program unggulan lainnya:
Cek Kesehatan Gratis (CKG): 80% sentimen positif
Sekolah Rakyat: 76% sentimen positif
Swasembada Pangan: 72% sentimen positif
Hilirisasi dan Industrialisasi: 70% sentimen positif
Sementara itu, program-program prioritas lainnya tercatat mendapatkan respons positif di bawah angka 70%.
Secara akumulatif, arah perbincangan warganet mengenai Presiden Prabowo didominasi oleh respons yang baik. Porsi sentimen positif berada di angka 42%, disusul oleh sentimen negatif sebesar 30%, dan sisanya sebanyak 28% bersifat netral.
Tim peneliti menjelaskan bahwa fluktuasi opini publik digital ini sangat dipengaruhi oleh jenis isu yang berkembang di masyarakat.
"Sentimen positif cenderung ditopang oleh kebijakan populis yang diluncurkan presiden. Sebaliknya, sentimen negatif dipantik oleh persoalan bangsa yang akut dan tidak kunjung ada sinyal perbaikan," kata tim Litbang Kompas dalam laporannya, Sabtu (8/11/2025).