Ada 35 Persen Anak Penerima MBG Tidak Menghabiskan Makanannya
Visualisasi
- Sudah kenyang
- Makanan basi/berbau
- Rasanya tidak enak
- Hambar/tidak ada rasa
- Tidak suka menunya
- Lain-lain
Keterangan
Evaluasi terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bergulir. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Wahana Visi Indonesia (WVI), dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) berkolaborasi melakukan riset khusus untuk menakar efektivitas program ini dengan melibatkan langsung perspektif anak-anak.
Riset bertajuk “Hasil Kajian Suara Anak: Mengedepankan Perspektif Anak dalam Program Makan Bergizi Gratis” ini menggunakan dua pendekatan partisipatif, yaitu mendengarkan suara anak (Listening to Children/LtC) melalui survei, serta penelitian yang dipimpin oleh anak (Children-Led Research/CLR) dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD).
Hasilnya cukup mengejutkan; sebanyak 35,2% dari 1.624 responden remaja penerima manfaat mengaku tidak menghabiskan porsi makanan yang mereka terima.
Berdasarkan hasil survei daring, kualitas makanan menjadi sorotan tajam. Alasan para responden tidak menghabiskan paket MBG didominasi oleh faktor tingkat kematangan, rasa, hingga kelayakan konsumsi.
Berikut adalah rincian alasan responden tidak menghabiskan MBG:
Sudah kenyang: 19,9%
Makanan basi/berbau: 19,6%
Rasanya tidak enak: 16,6%
Hambar/tidak ada rasa: 8,9%
Tidak suka menunya: 8%
Lain-lain: 15,2%
Dalam laporan resminya, ketiga organisasi ini menggarisbawahi bahwa masalah kualitas makanan tidak sekadar berkisar pada aroma yang tidak sedap atau basi, melainkan sudah masuk dalam tahapan higienitas yang mengkhawatirkan.
“Namun juga ditemukan hewan seperti ulat, belatung, dan serangga di makanan,” tulis tim riset dalam laporan kajiannya.
Temuan dari data survei ini juga berbanding lurus dengan keluhan yang muncul dalam sesi FGD. Sebagian besar anak yang terlibat mengeluhkan mutu makanan, rendahnya kualitas bahan baku, hingga buruknya cara pengolahan hidangan.